
Cilacap – Di Desa Boja, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, terdapat sebuah tradisi yang masih terjaga hingga kini, yaitu Tradisi Pasir Pari. Tradisi ini berpusat di Situs Panembahan Pasir Pari, sebuah makam keramat yang menyimpan sejarah panjang perjalanan Desa Boja dan tokoh-tokoh besar yang pernah hidup di wilayah tersebut.
Situs Pasir Pari diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Ngabei Arsantaka, seorang tokoh keturunan Keraton Surakarta yang datang ke Desa Boja pada masa awal perkembangan desa. Kehadirannya membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Beliau kemudian diangkat menjadi kepala desa oleh Mbah Dalem Arsa Wangsa, tokoh yang pertama kali menetap di Desa Boja bersama keluarganya.
Seiring waktu, kehidupan Desa Boja berkembang pesat. Setelah wafat, Raden Ngabei Arsantaka dimakamkan di Pasir Pari sesuai dengan wasiat beliau. Hingga kini, Pasir Pari tidak hanya menjadi tempat peristirahatan Raden Ngabei Arsantaka, tetapi juga tokoh-tokoh lain yang berjasa bagi desa, seperti Ibu Dalem Rum Siti, Syeikh Arya Pamot, Mbah Wana Wacana, serta para kepala desa terdahulu: Puspa Wacana, Puspa Laksana, dan Puspa Diprana.
Tradisi Pasir Pari bukan sekadar ritual ziarah, melainkan juga pengingat akan jasa para pendahulu. Bagi masyarakat Desa Boja, keberadaan situs ini adalah simbol perjuangan, keteladanan, dan kebersamaan. Selain itu, catatan sejarah Belanda tahun 1861 bahkan menyebut keberadaan Desa Boja dalam arsip kolonial dengan nama “Bodja”, yang menguatkan bahwa wilayah ini sudah lama dikenal dan memiliki peran penting.
Selain aspek sejarah, tradisi ini juga sarat dengan nilai spiritual. Masyarakat yang datang ke Pasir Pari biasanya mengadakan doa bersama, membaca tahlil, dan memohon keselamatan kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam, bahwa ziarah makam adalah sarana untuk mengingat kematian, mendoakan saudara seiman yang telah wafat, sekaligus memperkuat keimanan.
Tradisi Pasir Pari juga menjadi momentum berkumpulnya warga. Saat kegiatan ziarah dan doa bersama dilaksanakan, masyarakat bergotong royong membersihkan makam, menata lingkungan sekitar, serta saling membantu dalam persiapan acara. Momen ini mempererat tali silaturahmi antarwarga dan menguatkan nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk tidak melupakan sejarah, menghormati jasa para leluhur, dan meneladani perjuangan mereka. Lebih dari itu, Tradisi Pasir Pari mengajarkan pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus menjadikan doa dan rasa syukur sebagai landasan hidup.
Dengan melestarikan tradisi ini, masyarakat Desa Boja tidak hanya merawat situs bersejarah, tetapi juga merawat nilai-nilai keislaman yang luhur: menghormati orang tua dan pendahulu, menjaga silaturahmi, serta memperkuat iman melalui doa dan kebersamaan.
| Luas Area | 476 m2 |
| Luas Bangunan | 263 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2024 |