Selasa, 13 Oktober 2026

Terbit : Ming, 24 Agustus 2025

Tradisi Pasir Pari: Mahasiswa KKN UNUGHA Ikut Berpartisipasi

Oleh : admin Uncategorized
Tradisi Pasir Pari: Mahasiswa KKN UNUGHA Ikut Berpartisipasi

Cilacap – Di Desa Boja, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, terdapat sebuah tradisi yang masih terjaga hingga kini, yaitu Tradisi Pasir Pari. Tradisi ini berpusat di Situs Panembahan Pasir Pari, sebuah makam keramat yang menyimpan sejarah panjang perjalanan Desa Boja dan tokoh-tokoh besar yang pernah hidup di wilayah tersebut.

Situs Pasir Pari diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Raden Ngabei Arsantaka, seorang tokoh keturunan Keraton Surakarta yang datang ke Desa Boja pada masa awal perkembangan desa. Kehadirannya membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Beliau kemudian diangkat menjadi kepala desa oleh Mbah Dalem Arsa Wangsa, tokoh yang pertama kali menetap di Desa Boja bersama keluarganya.

Seiring waktu, kehidupan Desa Boja berkembang pesat. Setelah wafat, Raden Ngabei Arsantaka dimakamkan di Pasir Pari sesuai dengan wasiat beliau. Hingga kini, Pasir Pari tidak hanya menjadi tempat peristirahatan Raden Ngabei Arsantaka, tetapi juga tokoh-tokoh lain yang berjasa bagi desa, seperti Ibu Dalem Rum Siti, Syeikh Arya Pamot, Mbah Wana Wacana, serta para kepala desa terdahulu: Puspa Wacana, Puspa Laksana, dan Puspa Diprana.

Tradisi Pasir Pari bukan sekadar ritual ziarah, melainkan juga pengingat akan jasa para pendahulu. Bagi masyarakat Desa Boja, keberadaan situs ini adalah simbol perjuangan, keteladanan, dan kebersamaan. Selain itu, catatan sejarah Belanda tahun 1861 bahkan menyebut keberadaan Desa Boja dalam arsip kolonial dengan nama “Bodja”, yang menguatkan bahwa wilayah ini sudah lama dikenal dan memiliki peran penting.

Selain aspek sejarah, tradisi ini juga sarat dengan nilai spiritual. Masyarakat yang datang ke Pasir Pari biasanya mengadakan doa bersama, membaca tahlil, dan memohon keselamatan kepada Allah SWT. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam, bahwa ziarah makam adalah sarana untuk mengingat kematian, mendoakan saudara seiman yang telah wafat, sekaligus memperkuat keimanan.

Tradisi Pasir Pari juga menjadi momentum berkumpulnya warga. Saat kegiatan ziarah dan doa bersama dilaksanakan, masyarakat bergotong royong membersihkan makam, menata lingkungan sekitar, serta saling membantu dalam persiapan acara. Momen ini mempererat tali silaturahmi antarwarga dan menguatkan nilai kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk tidak melupakan sejarah, menghormati jasa para leluhur, dan meneladani perjuangan mereka. Lebih dari itu, Tradisi Pasir Pari mengajarkan pentingnya menjaga warisan budaya sekaligus menjadikan doa dan rasa syukur sebagai landasan hidup.

Dengan melestarikan tradisi ini, masyarakat Desa Boja tidak hanya merawat situs bersejarah, tetapi juga merawat nilai-nilai keislaman yang luhur: menghormati orang tua dan pendahulu, menjaga silaturahmi, serta memperkuat iman melalui doa dan kebersamaan.

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Masjid Al Huda 5
Jl. Banteng Loreng RT 01 RW 06, Dusun Cimencok, Desa Boja
Luas Area476 m2
Luas Bangunan263 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri2024